Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Perang Valas : AS Resmi Tuduh China


Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/10/16/18023799/AS.Resmi.Tuduh.China-8
Sabtu, 16 Oktober 2010 | 18:02 WIB


 
Yuan

KOMPAS.com — Yuan yang melenggang lemah terus-menerus terhadap dollar AS makin membuat Abang Sam (AS) gerah. Makanya, meski menunda penerbitan laporan mata uangnya dari jadwal Jumat (15/10/2010), AS akan secara resmi mengeluarkan pernyataan kalau China adalah manipulator mata uang.

Lazimnya memang, Departemen Keuangan merilis dua laporan resmi tiap tahun terkait mata uang yang dipakai oleh negara-negara mitra dagangnya.

Selama ini, kebijakan menyebut China sebagai biang keladi manipulasi mata uang belum pernah dilakukan AS. Kini laporan itu diduga tidak akan dikeluarkan sebelum KTT G-20 mendatang dilangsungkan.

Pada sisi lain, China sejak awal sudah mengatakan, semestinya AS tidak menggunakan mata uang yuan yang bernilai rendah sebagai kambing hitam atas persoalan ekonomi domestiknya.

Dalam sebuah acara briefing rutin, Juru Bicara Menteri Perdagangan Yao Jian mengatakan, China akan meneruskan upaya mereformasi mata uangnya, tetapi dalam tempo yang dibuatnya sendiri.

Sementara laporan Depkeu AS yang terakhir, terbit April, akhirnya ditunda penerbitannya hingga tiga bulan dan tidak menyinggung soal bagaimana China memanipulasi mata uangnya.

Bill Clinton
Penyebutan satu negara sebagai manipulator mata uang terakhir dilakukan AS di bawah pemerintahan Bill Clinton yang saat itu juga menunjuk hidung China.
Sejumlah analis menduga, sebagaimana warta AP dan AFP, China sengaja membuat yuan melemah sedemikian rupa sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekspornya dan unggul bersaing di pasar global.

Jubir Depdag China, Yao Jian, mengatakan, China akan melakukan reformasi mata uang berdasarkan situasi ekonomi negerinya. Yao juga menolak kritik terbaru dari Menteri Keuangan Yoshihiko Noda dan menyebutnya "tak masuk akal".
Noda ikut mendesak China agar menaikkan nilai yuan, dan mengatakan ancaman terjadinya perang mata uang kemungkinan akan menjadi isu penting dalam KTT G-20 mendatang yang akan berlangsung di Seoul, Korea Selatan.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Kekayaan Penduduk Indonesia Melonjak 5 Kali Lipat

Sumber : www.detikfinance.com
Jumat, 08/10/2010 19:15 WIB
Nurul Qomariyah - detikFinance 
Foto : www.cafebelajar.com
Zurich - Kekayaan penduduk di India dan Indonesia mencatat pertumbuhan terbesar di dunia. Kekayaan di Indonesia tercatat naik hingga 5 kali lipat dalam 1 dekade menjadi US$ 1,8 triliun atau sekitar Rp 16.500 triliun.

Pertumbuhan kekayaan Indonesia itu lebih cepat ketimbang India yang 'hanya' mencetak kenaikan tiga kali lipat dalam 1 dekade menjadi US$ 3,5 triliun.

Dengan tren tersebut, maka pada tahun 2015 diperkirakan kekayaan penduduk Indonesia bisa melonjak lagi menjadi US$ 3 triliun, sementara India naik hampir 2 kali lipat menjadi US$ 6,4 triliun.

Demikian laporan Global Wealth Report, Credit Suisse Research Institute yang dirilis di Zurich, Jumat (8/10/2010). Laporan ini didasarkan atas data yang dikumpulkan pada medio 2010 di lebih dari 200 negara di dunia.

Kekayaan yang dimaksud adalah nilai dari aset-aset finansial dan non-finansial (terutama real estate), tanpa utang rumah tangga. Data yang dipresentasikan adalah didasarkan pada data terbaik yang ada dari aset rumah tangga dan utang, diupdate dan dilakukan estimasi ketika diperlukan.

Proyeksi untuk 2015 dibuat Credit Suisse Research Institute dan didasarkan pada regresi korelasi antara pertumbuhan PDB, kekayaan dan level permulaan kekayaan per orang dewasa dikombinasikan dengan proyeksi PDB IMF.

Laporan itu menyebutkan, total kekayaan global 4,4 miliar penduduk dewasa dunia telah melonjak hingga 72% menjadi US$ 195 triliun dalam 1 dekade. Didorong oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi, nilai kekayaan itu diprediksi akan melonjak 61% menjadi US$ 315 triliun pada 2015.

China kini tercatat sebagai negara terkaya ketiga di dunia dengan kekayaan mencapai US$ 16,5 triliun, di bawah AS (US$ 54,6 triliun) dan Jepang (US$ 21 triliun).

Ini artinya AS menguasai 27% dari kekayaan dunia yang mencapai US$ 195 triliun, Jepang berada di urutan kedua dengan menguasai 11% dan China di posisi ketiga sebesar 8%. Sementara Prancis, Italia, Jerman dan Inggris berada di tempat keempat dengan kekayaan sebesar 6%.

Namun Credit Suisse memperkirakan jika sejarah pertumbuhan ekonomi China terus berlanjut, maka nilai kekayaan penduduk China bisa melonjak 111% pada 2015, dan bercokol pada posisi kedua sehingga menggusur Jepang.

Laporan ini juga menunjukkan jumlah miliuner di kawasan Asia Pasifik lebih banyak ketimbang di Eropa. Dari total 1.000 miliuner di dunia, 500 berada di Amerika Utara, 245 di Asia Pasifik dan 230 ada di Eropa.

"Laporan ini mengkonfirmasi bahwa negara-negara Asia Pasifik, yang sekarang menguasai konsumen kelas menengah dunia telah mendorong kekayaan dunia," jelas Osama Abbasi, chief executive Officer Asia Pasifik Credit Suisse. (qom/qom)