Senin, 01 November 2010

Lacak Pembunuh, Polisi Gunakan Facebook

Berita diperoleh dari : www.detikinet.com
Minggu, 31/10/2010 16:05 WIB  
Rachmatunisa - detikinet

Jakarta - Para tim penyidik di kepolisian akan diajari cara melacak pembunuh dan pelaku kejahatan lainnya melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Tak hanya itu, mereka juga akan diajari melakukan forensik digital dasar seperti mengumpulkan informasi dari komputer, ponsel dan perangkat elektronik lainnya.

Dilansir Telegraph dan dikutip detikINET, Minggu (31/10/2010), jajaran kepolisian di Inggris didesak untuk tidak ketinggalan dalam menangani berbagai kejahatan cyber yang kian marak.

Awal tahun ini, seorang penjahat di Inggris bernama Craig Lynch sempat mencemooh aparat kepolisian. Lynch melakukan kucing-kucingan selama empat bulan masa buronannya, dengan mengupdate status dan memberikan petunjuk keberadaannya melalui status Facebook.

Tentunya, peristiwa ini menjadi cambuk bagi kepolisian Inggris untuk bisa lebih sigap memburu pelaku kejahatan di dunia maya. Deputy Chief Constable Nick Gargan, selaku kepala National Policing Improvement Agency (NPIA) mengatakan pelatihan seperti ini sangat penting.

"Pelatihan ini akan meliputi area sensitif kebijakan di area yang sebelumnya masih terbatas," tandasnya. ( rns / eno ) 
 

Senin, 25 Oktober 2010

Tolak Kunjungan Kerja DPR, Demo di Bandara Dibubarkan

Berita diperoleh dari : http://megapolitan.kompas.com/read/2010/10/23/15410037/Demo.di.Bandara.Dibubarkan
Sabtu, 23 Oktober 2010

Demo menolak kunjungan anggota DPR ke Yunani di bandara Soekarno Hatta, Sabtu (23/10/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi demonstrasi yang mengatasnamakan Aliansi Rakyat Tolak Studi Banding DPR RI ke Luar Negeri akhirnya dibubarkan pihak Polresta Bandara, Sabtu (23/10/2010).
Aksi negosiasi antara pihak kepolisian dan pendemo sempat terjadi beberapa kali. Pendemo meminta waktu untuk berorasi menunggu kedatangan anggota Badan Kehormatan DPR RI yang akan berangkat ke Yunani.
Menurut Kapolresta Bandara Kombes Turnagogo Sihombing, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009, di bandara tidak boleh ada demonstrasi.
"Di bandara ini kita harus menciptakan suasana yang aman dan nyaman. Untuk itu, seoptimal mungkin kita melakukan konsolidasi dengan mereka karena berdemo di bandara tidak diperkenankan, siapa pun tidak boleh, tanpa ada pengecualian," jelas Turnagogo saat ditemui di terminal keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta.
Kekecewaan pun dirasakan para demonstran karena waktu yang digunakan untuk berorasi sangat sedikit. Hampir satu jam mereka berorasi di pintu masuk keberangkatan bandara.
"Aksi sebenarnya tidak mengganggu, tapi kita tidak diberikan kesempatan oleh polisi, untuk itu terakhir kita akan bacakan pernyataan sikap," kata orator.


Senin, 18 Oktober 2010

Perang Valas : AS Resmi Tuduh China


Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/10/16/18023799/AS.Resmi.Tuduh.China-8
Sabtu, 16 Oktober 2010 | 18:02 WIB


 
Yuan

KOMPAS.com — Yuan yang melenggang lemah terus-menerus terhadap dollar AS makin membuat Abang Sam (AS) gerah. Makanya, meski menunda penerbitan laporan mata uangnya dari jadwal Jumat (15/10/2010), AS akan secara resmi mengeluarkan pernyataan kalau China adalah manipulator mata uang.

Lazimnya memang, Departemen Keuangan merilis dua laporan resmi tiap tahun terkait mata uang yang dipakai oleh negara-negara mitra dagangnya.

Selama ini, kebijakan menyebut China sebagai biang keladi manipulasi mata uang belum pernah dilakukan AS. Kini laporan itu diduga tidak akan dikeluarkan sebelum KTT G-20 mendatang dilangsungkan.

Pada sisi lain, China sejak awal sudah mengatakan, semestinya AS tidak menggunakan mata uang yuan yang bernilai rendah sebagai kambing hitam atas persoalan ekonomi domestiknya.

Dalam sebuah acara briefing rutin, Juru Bicara Menteri Perdagangan Yao Jian mengatakan, China akan meneruskan upaya mereformasi mata uangnya, tetapi dalam tempo yang dibuatnya sendiri.

Sementara laporan Depkeu AS yang terakhir, terbit April, akhirnya ditunda penerbitannya hingga tiga bulan dan tidak menyinggung soal bagaimana China memanipulasi mata uangnya.

Bill Clinton
Penyebutan satu negara sebagai manipulator mata uang terakhir dilakukan AS di bawah pemerintahan Bill Clinton yang saat itu juga menunjuk hidung China.
Sejumlah analis menduga, sebagaimana warta AP dan AFP, China sengaja membuat yuan melemah sedemikian rupa sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekspornya dan unggul bersaing di pasar global.

Jubir Depdag China, Yao Jian, mengatakan, China akan melakukan reformasi mata uang berdasarkan situasi ekonomi negerinya. Yao juga menolak kritik terbaru dari Menteri Keuangan Yoshihiko Noda dan menyebutnya "tak masuk akal".
Noda ikut mendesak China agar menaikkan nilai yuan, dan mengatakan ancaman terjadinya perang mata uang kemungkinan akan menjadi isu penting dalam KTT G-20 mendatang yang akan berlangsung di Seoul, Korea Selatan.